Ketidaksempurnaan dalam Kesempurnaan Karier Kaka

Ketidaksempurnaan dalam Kesempurnaan Karier Kaka

Jika kebanyakan pemain sepakbola asal Brasil berasal dari keluarga yang tidak mampu, Ricardo Izecson dos Santos Leite, atau yang lebih dikenal dengan Kaka, mempunyai latar belakang yang berbeda. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan dan berpendidikan. Ayahnya adalah seorang insinyur dan ibunya merupakan guru sekolah dasar di Brasil.

Akibat dari kondisi latar belakang yang berbeda tersebut membuat Kaka tidak seperti kebanyakan pesepakbola Brasil yang bermain sepakbola di jalanan. Kaka langsung dimasukkan oleh orang tuanya ke akademi sepakbola Sao Paolo atas usulan seseorang yang melihat bakatnya. Selain itu, Kaka juga termasuk ke dalam pesepakbola yang sempat mengenyam pendidikan cukup lama. Terhitung selama 11 tahun Kaka pernah menempuh pendidikan di Brasil.

Namun, walaupun memiliki latar belakang yang berbeda dengan para pemain Brasil pada umumnya, Kaka tetap mampu menahbiskan dirinya sebagai salah satu pesepakbala terbaik yang pernah dilahirkan di negeri samba tersebut.

Untuk mengarungi musim 2003/2004, AC Milan mendatangkan seorang pemuda asal Brasil berusia 21 tahun ke San Siro dengan mahar 8,5 juta euro dari Sao Paolo bernama Kaka. Pada saat itu, mungkin hanya segelintir orang saja yang pernah mendengar atau mengetahui nama tersebut. Karena saat itu ia merupakan bagian dari timnas Brasil di Piala Dunia 2002.

Kaka datang ke Milan di saat mereka baru saja meraih gelar Liga Champions 2002/2003. Dan kondisi skuat Milan pada saat itu sudah dipenuhi begitu banyak pemain bintang. Apalagi di posisinya kaka yaitu sebagai pemain yang berada di belakang dua penyerang atau berperan sebagai trequartista.

Dalam skema 4-3-1-2 milik Milan ketika itu, sudah terdapat seorang maestro asal Portugal bernama Manuel Rui Costa. Belum lagi adanya Clarence Seedorf yang juga mampu bermain di posisi tersebut.

Tentu tidak sedikit yang meragukan apakah Kaka akan mendapatkan tempat di tim inti Milan atau tidak. Apalagi ketika itu ia masih sangat muda dengan usia baru 21 tahun. Namun ternyata, pelatih Milan saat itu, Carlo Ancelotti, menaruh kepercayaan penuh kepada seorang Kaka untuk masuk ke dalam tim inti Milan.

Ia berhasil membuat Rui Costa merasakan hangatnya bangku cadangan.
Kepercayaan Ancelotti tersebut dibayar dengan penampilan gemilang oleh Kaka yang akhirnya membuat ia tak tergantikan di tim inti Milan. Kolaborasinya di lini tengah bersama Clarence Seedorf, Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso tak pernah bisa ditemukan penggantinya hingga sekarang oleh Milan.

Sejak kedatangannya, sedikit demi sedikit keberadaan Kaka di skuat Milan semakin vital, terutama ketika Andriy Shevchenko memutuskan untuk pindah ke Chelsea pada 2006. Dan pada saat bersamaan juga Milan terkena kasus pengaturan skor, Calciopoli.

Pada saat Milan sedang dilanda krisis seperti inilah sosok Kaka menunjukkan kualitasnya. Ia membuat para Milanisti (sebutan pendukung Milan) dengan cepat melupakan kepergian Shevchenko.

Kaka berhasil membawa Milan menjuarai Liga Champions 2006/2007 di saat banyak orang meragukan kualitas Milan pada saat itu yang ditinggal Shevchenko dan dihuni oleh para pemain yang sudah cukup tua untuk seorang pesepakbola.

2007 ini merupakan puncak kejayaan Kaka bersama Milan. Sebab, ia berhasil meraih semua gelar penting dari setiap kompetisi yang diikutinya bersama Il Diavolo Rosso (kecuali Coppa Italia).

Selain itu, Kaka juga mampu menahbiskan dirinya sebagai pemain terbaik dunia 2007. Ia berhasil menyabet gelar pemain terbaik dunia FIFA dan Ballon d’Or. Pada saat itu, Kaka berhasil mengungguli dua mega bintang sepakbola saat ini, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Keberhasilannya ini juga membuat ia menjadi pemain terakhir yang meraih gelar pemain terbaik dunia sebelum akhirnya hanya dikuasai oleh Ronaldo dan Messi saja secara bergantian hingga kini.

Leave a Reply

%d bloggers like this: